Rekrontruksi Pendidikan dan Inovasi Kebijakan

15 Agu

Salah satu jalan penting untuk rekontekstualisasi pendidikan dapat dilakukan melalui apa yang disebut sebagai rekonstruksi pendidikan. Tujuannya adalah agar pendidikan semakin mempunyai relevansi nyata dengan kualitas kehidupan masyarakat, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, tanpa memandang apakah mereka datang dari stratifikasi dan status sosial ekonomi yang berbeda-beda.

Rekonstruksi pendidikan juga sangat penting untuk menghindari kecenderungan bahwa penyelenggaraan pendididkan sekarang ini semakin elitis dikuasi oleh ‘arus utama’ yang bersifat hegemonik. Biasanya mereka datang dari Barat atau Utara yang dipandang sebagai ‘pewaris’ budaya luhur yang telah mapan dan kemudian diletakan sebagai referensi. Sesungguhnya, sejak berakhirnya perang dingin, sistem pendidikan formal di dunia telah mengalami transformasi dari sistem atau model pendidikan yang bersifat klasik elitis kepada sistem atau model pendidikan yang bersifat massal liberal. Ini terjadi karena arus modernisasi dan globalisasi kehidupan umat manusia tidak dapat dihindari. Hal ini disebabkan oleh karena berkembangnya keinginan yang begitu kuat dari warga negara untuk menerapkan konsep demokrasi dalam pendidikan. Konsep ini, kemudian menjelma menjadi pendidikan untuk semua warga Negara dan pendidikan ditujukan untuk menopang pembangunan nasional masing-masing negara.

Transformasi sistem pendidikan seperti di atas juga dimaksudkan agar pendidikan memberikan kontribusi pada pemberantasan buta huruf, kemiskinan, kesehatan masyarakat, dan dalam hal tertentu membatasi tindakan-tindakan kekerasan di masyarakat. Hampir di semua negara, tranformasi pendidikan dilakukan sebagai bagian penting dari usaha peningkatan kapasitas masyarakat dalam sebuah konstruksi masyarakat yang demokratis. Dengan kata lain, pendidikan diletakan sebagai salah satu elemen terpenting dalam penguatan peradaban umat manusia serta peningkatan kualitas kehidupannya.

Pertanyaan kemudian adalah apa yang menjadi tugas utama pendidikan di dalam modernisasi masyarakat di era global? Keadaan masyarakat dunia sekarang ini sudah berkembang dengan cepat. Perkembangan ini, lagi-lagi, dipicu oleh globalisasi serta penggunaan ilmu dan teknologi komunikasi di dalam kehidupan sehari-hari. Globalisasi dan teknologi komunikasi telah memaksa dunia pendidikan untuk melakukan rekonstruksi ulang, dan merekonstruksi cara bekerjanya. Jika kemarin dunia pendidikan kita bekerja dengan ‘cara-cara biasa’ maka kemudian cara-cara biasa itu menjadi kurang relevan. Sebab modernisasi telah mendorong orang membangun dan mengelola berbagai institusi dalam masyarakat. Masyarakat madani telah berkembang. Seringkali masyarakat madani ini mengambil alih fungsi-fungsi pemerintahan, sehingga banyak tugas pemerintahan yang dianggap kurang cocok untuk mengelola pendidikan. Pemerintahan negara akhirnya mengalami kegamangan dalam melihat bahwa pendidikan itu tidak hanya sekedar untuk pemberantasan buta huruf tetapi juga pendidikan diletakan sebagai salah satu bentuk investasi. Dengan kata lain, pendidikan berfungsi sebagai agen dari proses modernisasi masyarakat.

Salah satu tugas utama pendidikan adalah meningkatkan kapasistas intelektual dan pemahaman orang terhadap peradaban yang melintasi batas-batas dan sistem pemerintahan nasional negaranya. Pendidikan memberi dan membangun tradisi pembelajaran terhadap kebijakan dan kebenaran sehingga pendidikan memberi kontribusi signifikan pada usaha membangun ‘good communities’, masyarakat yang baik, tempat yang nyaman, dan lingkungan ekologis yang menjamin keberlangsungan kehidupan di masa depan. Dalam bahasa yang lebih sederhana dapat dinyatakan bahwa pendidikan itu harus lebih kontektual karena yang kita harapkan dari pendidikan itu adalah usaha membangun manusia yang memiliki karakter agar dapat hidup berdampingan di masyarakat yang harmonis, plural, dan mutikultur.

Jika tugas utama pendidikan yang diharapkan oleh masyarakat seperti yang digambarkan di atas, maka yang muncul kemudian adalah apa yang menjadi fungsi pendidikan di masa depan? Apakah pendidikan sekarang yang hampir menyerupai pelatihan (training), masih dipandang relevan? Mengapa tidak ada perbedaan antara pendidikan dan pelatihan? Padahal, dalam pandangan yang lebih bersifat idealistik, pendidikan itu diharapkan dapat menjangkau dua target utama yakni pembangunan nasional masing-masing negara dan pengembangan kebijaksanaan (wisdom), serta peradaban di masyarakat.

Kita mengharapkan bahwa pendidikan dapat mengambil peran utama dalam dua tugas besar itu. Oleh karena itu, pendidikan yang dimaksudkan bukan pendidikan yang kita alami seperti sekarang ini. Kita harus melakukan rekonstruksi pendidikan agar pendidikan itu kontekstual dengan perkembangan masa depan. Rekonstruksi pendidikan yang dimaksudkan didasarkan pada asumsi bahwa lembaga-lembaga pendidikan kita, sistem, dan proses pelaksanaan pendidikan, sekarang ini masih terkesan berjalan sendiri-sendiri. Antara sistem, proses, dan lembaga pendidikan tidak bekerja secara terintegrasi, seolah-olah setiap komponen dalam pendidikan itu bergerak dengan sendirinya. Penyelenggaraan pendidikan seolah-olah tidak terkait dengan pembangunan bangsa, kesejahteraan masyarakat, kapitalisme global, dan tidak berhubungan dengan peningkatan infrastruktur pembangunan. Pendidikan seperti tampak tak memiliki keterkaitan dengan berbagai macam problema kehidupan baru warga negara seperti inflasi, resesi, korupsi, alienasi, eksploitasi, urbanisasi, polusi, pertambahan penduduk yang pesat, kekerasan di masyarakat. Oleh karenanya, rekonstruksi pendidikan diperlukan agar ia lebih kontekstual dan mampu memberikan solusi bagi perbaikan kehidupan umat manusia.

Proses rekonstruksi pendidikan tidak bisa dikerjakan dalam periode yang vacuum, atau tiba-tiba, atau sekali-kali. Rekontruksi pendidikan harus dilakukan secara berkesinambungan, terus-menerus, karena ia merupakan sebuah proses yang berkelanjutan dalam rangka membangun sebuah lingkungan atau ‘dunia’ yang lebih baik (a better world). Untuk membangun ‘ a better world’ seperti itu, menurut hemat penulis, diperlukan rekonstruksi pendidikan di tiga bidang area pokok. Pertama, rekonstruksi di bidang sistem administrasi pendidikan. Rekonstruksi ini dimaksudkan untuk memperbaiki dan merencanakan ulang sebuah sistem administrasi pendidikan yang lebih baik, yakni sebuah sistem administrasi pendidikan yang lebih efisien, fleksibel, dan kompatibel dengan perkembangan modernisasi dan globalisasi. Kedua, rekonstruksi kepemimpinan pendidikan. Rekonstruksi ini ditujukan untuk membangun kembali prinsip-prinsip kepemimpinan pendidikan yang lebih baik, yakni kepemimpinan yang dapat mengelola serta menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi begitu dinamis. Ketiga, rekonstruksi kurikulum sekolah dan lembaga pendidikan tinggi. Rekonstruksi ini diperlukan untuk membangun kerja sama yang lebih baik dalam banyak bidang kehidupan, terutama yang berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan ekonomi.

Rekonstruksi kurikulum misalnya, harus dapat menjawab pertanyaan pokok yakni apakah pendidikan yang kita selenggarakan sekarang ini untuk tujuan memenuhi harapan-harapan dunia kerja, industrialisasi, dan kapitalisme? Apakah benar bahwa kita ingin membangun pendidikan itu untuk tujuan-tujuan perdagangan (sole purposes)? Atau kita membangun pendidikan ini untuk tujuan-tujuan yang melebihi dari sekedar melayani industrialisasi, dunia kerja, dan bahkan kapitalisme. Kita justru ingin membangun pendidikan itu untuk tujuan-tujuan yang bersifat kemanusian dan pengembangan peradaban di mana setiap kita dapat hidup dan berinteraksi dalam kultur, kebiasaan, sejarah, dan tradisi yang beragam. Kita tidak menghendaki bahwa teknologi mengontrol kehidupan kita. Kita menginginkan bahwa kitalah yang mengontrol teknologi. Kita ingin mendidik seorang individu atau kelompok masyarakat yang dapat memahami makna kemanusiaan, dan makna masyarakat terlebih dahulu. Baru kemudian, pendidikan itu mengajarkan individu tentang ekonomi, bisnis, politik, dan berbagai hal yang berkaitan dengan industri. Diantara area yang strategis dari rekonstruksi kurikulum itu adalah pembelajaran dengan pemahaman yang bermakna, pembelajaran keterampilan bekerja, pembelajaran penanganan sistem ekologi dan krisis atau masalah yang dihadapi oleh masyarakat dan pembelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi.

Begitu juga dengan rekonstruksi organisasi pendidikan, rekonstruksi bidang ini harus diarahkan untuk membangun organisasi pendidikan seperti sekolah dan universitas sebagai sebuah unit-unit lembaga peradaban. Organisasi pendidikan harus dapat diisi oleh orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang dengan beragam kepribadian, kepercayaan, nilai-nilai, gagasan-gagasan, etika-etika, serta cita-cita. Organisasi perlu direkonstruksi, sebab organisasi pendidikan bukan bersifat mekanistik dan instrumental. Organisasi pendidikan semestinya dapat menjadi ‘komunitas yang hidup’ yang mampu meningkatkan atau mendorong pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Diantara area strategis dari rekonstruksi organisasi pendidikan itu berkaitan dengan penyatuan visi organisasi, rekayasa sistem organisasi, kesadaran etika kerja, sistem pelayanan publik, dan penelitian dan pengembangan.

Dalam hal rekonstruksi kepemimpinan pendidikan, yang diperlukan adalah membangun kepemimpinan yang baik. Pemimpin yang baik adalah mereka yang selalu memikirkan lebih dahulu kesejahteraan umum. Ia akan selalu mempertimbangkan kesejahteraan para pegawainya yang bekerja di dalam organisasi tersebut. Ia memberikan respek dan perhatian yang cukup kepada para pekerja, karena pemimpin itu ingin memperoleh ‘keuntungan maksimum’ dari orang yang berkarya dalam kapasitas maksimum. Sifat-sifak kepemimpinan yang otokratis, koruptif, diskriminasi, operesif, sedapat mungkin diminimalisir.

Kepemimpinan pendidikan yang baik adalah para inovator yang membawa gagasan-gagasan dan perubahan-perubahan baru dalam organisasi. Mereka dapat menciptakan lingkungan kerja yang bersahabat, kondusif, membawa kebanggaan mereka pada organisasi pendidikan. Mereka juga memimpin inisiatif perilaku berkeadilan, beretika, dan jujur. Sangat terbuka terhadap kritik dan komentar. Mampu mengembangkan kerja sama dan komunikasi antara orang yanmg berkepentingan. Mereka juga dapat memprakarsai berbagai program baru yang lebih menjanjikan dan selalu menginginkan hal-hal yang lebih baik.

Dalam ketiga area rekonstruksi itulah terletak proses modernisasi dan konstektualisasi pendidikan yang dapat memberikan jawaban dan harapan terhadap perubahan yang dibawa oleh globalisasi. Keberhasilan kita dalam merekonstruksi pendidikan kita akan banyak menentukan masa depan bangsa kita. Sebuah masa depan, yang kerap kali, masih menjadi misteri bagi sebagian besar warga Indonesia.

Sources : dari berbagai sumber

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: