Budaya Sekolah

9 Okt

Menurut Stephen P. Robbins (1996) yang dialihbahasakan oleh Hadyana Pujaatmaja, bahwa budaya organisasi mengacu ke suatu sistem makna bersama yang dianut oleh anggota-anggota yang membedakan organisasi itu dari organisasi-organisasi lainnya. Sistem makna bersama ini bila diamati dengan lebih seksama, merupakan seperangkat karakteristik utama yang dihargai oleh organisasi itu.

Menurut Stephen P. Robbins (1996) yang dialihbahasakan oleh Hadyana Pujaatmaja, mengemukakan bahwa riset paling baru mengemukakan tujuh karakteristik primer berikut yang, bersama-sama, menangkap hakikat dari budaya suatu organisasi.

  1. Inovasi dan pengambilan risiko. Sejauh mana para karyawan didorong untuk inovatif dan mengambil risiko.
  2. Perhatian kerincian. Sejauh mana para karyawan diharapkan memperlihatkan presisi (kecermatan), analisis, dan perhatian kepada rincian.
  3. Orientasi hasil. Sejauh mana manajemen mengfokus pada hasil bukannya pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil itu.
  4. Orientasi orang. Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek hasil-hasil pada orang-orang di dalam organisasi itu.
  5. Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim, bukannya individu-individu.
  6. Keagresifan. Sejauh mana orang-orang itu agresif dan kompetitif dan bukannya santai-santai.
  7. Kemantapan. Sejauh mana kegiatan organisasi menekankan dipertahankannya status quo sebagai kontras dari pertumbuhan.

Tiap karakteristik ini berlangsung pada suatu kontinum dari rendah ke tinggi. Maka dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik ini, akan diperoleh gambaran majemuk dari budaya organisasi itu. Gambaran ini menjadi dasar untuk perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengenai organisasi itu, bagaimana urusan diselesaikan didalamnya, dan cara para anggota diharapkan berperilaku.

Budaya melakukan sejumlah fungsi di dalam sebuah organisasi. Pertama, budaya mempunyai suatu peran menetapkan tapal batas; artinya, budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain. Kedua, budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi. Ketiga, budaya mempermudah timbulnya komitmen pada suatu yang lebh luas daripada kepentingan diri individual seseorang. Keempat, budaya itu meningkatkan kemantapan sistem sosial. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para karyawan. Akhirnya, budaya berfungsi sebagai mekanisme pembuat maknadan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para karyawan. Fungsi yang terakhir inilah yang terutama menarik perhatian kita. Seperti kutipan berikut itu menjelaskan, budaya menetapkan aturan permainan: “menurut definisi budaya itu sukar dipahami (elusif), tidak berwujud, implisit, dan dianggap sudah semestinya. Tetapi semua organisasi mengembangkan seperangkat inti pengandaian, pemahaman, dan aturan implisit yang mengatur perilaku sehari-hari dalam tempat kerja… sebelum pendatang baru belajar aturan-aturan itu, mereka tidak diterima baik sebaik anggota penuh dari organisasi itu. Pelanggaran (transgresi) aturan dipihak eksekutif tingkat tinggi atau karyawan garis depan mengakibatkan ketidaksetujuan yang universal dan hukuman berat. Kesesuaian dengan aturan menjadi dasar primer untuk imbalan dan mobilitas naik pangkat.

Schein (1985) mendefinisikan budaya sebuah organisasi sebagai "tanggapan dan kepercayaan yang ditanggung bersama oleh pelaku-pelaku organisasi, berlaku secara tidak disadari, dan dalam bentuk ‘taken-for-granted’ sebuah organisasi itu melihat lingkungannya dan dirinya sendiri". Sedangkan Holly dan Southworth (1989) memaknai budaya sekolah sebagai "konteks dan setting sekolah, proses dalamannya dan makna di mana ahli-ahli organisasi menyatakan dunia pekerjaan mereka". Ringkasnya, kedua definisi menunjukkan suatu proses yang terus menerus dan bersifat evolusi, dan digerakkan oleh tekanan dari luar, potensi dari dalam, respon kepada hal-hal kritikal dan faktor-faktor peluang. Peran penting (antara peran-peran lain) pemimpin dalam membangun budaya yang wajib disadari ialah; jadilah pemimpin yang menggerakkan dan mengekalkan wawasan yang jelas, visi yang ditanggung dan dibangunkan bersama oleh seluruh anggota organisasi sekolah. Sekolah-sekolah yang menuntut ‘kesatuan visi’ desebut sebagai ‘high consensus schools’.

Adapun ciri-ciri sekolah yang mempunyai budaya kesatuan cara pandang seperti di atas adalah sebagai berikut:

  1. Menghargai musyawarah: di mana semua guru mesti mengutamakan ‘kesatuan’ sekolah sebagai organisasi. Kemufakatan dapat menghindarkan keterasingan guru, sikap mementingkan diri sendiri sehingga tidak mau mengakui masalahnya atau tidak mau melihat masalah orang lain. Dengan kemufakatan guru-guru secara bersama-sama menyelesaikan masalah dan membuat keputusan, di samping menghargai kesaling-bergantungan dan bantu-membantu sesama staf.
  2. Dalam sekolah yang baik, budaya berjalan lebih mirip kepada suatu komunitas ketimbang organisasi. Dalam komunitas kejayaan dan kegagalan ditanggung bersama, saling tolong-menolong, dan bertingkah-laku menurut norma-norma dan kepercayaan internal. Satu komunitas bertindak berdasarkan kepercayaan utama yang disetujui/disepakati dan berdiri tegak di atas kepentingan bersama. Keresahan dan ketidaktentuan tentang apa yang patut dan tidak patut dibuat, apa yang wajar atau apa pula yang tidak wajar, tidak akan terwujud. Guru-guru tidak hilang mencurigai dengan hal-hal yang tidak  diketahui atau perkara-perkara yang bukan rutinitas, serta mereka tidak menyalahkan orang lain jauh. Sebaliknya guru-guru menunjukkan sikap keyakinan yang tinggi, mereka tahu di mana mereka berpijak dan langit mana yang mereka junjung.
  3. Ciri ketiga budaya sekolah yang baik ialah keyakinan guru. Guru-gurunya penuh keyakinan dalam tugasnya setiap hari, mereka lebih siap menerima cobaan-cobaan, mengambil risiko, dan melahirkan idea-idea kreatif serta rumusan-rumusan. Pada akhirnya keyakinan ini akan mewujudkan optimisme. Tempat kerja menjadi lebih menggairahkan sementara guru-guru mendapat penyempurnaan dan kepuasan profesionalisme dari kerja-kerja mereka untuk penyelesaian masalah dan membuat suatu keputusan, sokongan dari rekan sejawat dan bertambahnya peluang-peluang belajar dengan pengetahuan dan pengalaman serta kepakaran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: