Hubungan antara Kepemimpinan Transformasional, Budaya Sekolah, dan Adaptabilitas Manajemen Sekolah

17 Okt

Pembenahan secara total dengan tujuan peningkatan mutu wajib dilakukan oleh lembaga pendidikan. Pembenahan secara total meliputi segala aspek. Jika ini dilakukan maka akan membentuk sebuah jaringan yang kuat yang secara serentak melaju mencapai tujuan/sasaran. Dengan demikian maka sebuah lembaga pendidikan akan tetap eksis dan terus berkembang dalam kancah persiangan global. Kepekaan melihat kondisi yang bergulir dan peluang masa depan menjadi modal utama untuk mengadakan perubahan paradigma dalam manajemen pendidikan. Modal ini akan dapat menjadi pijakan yang kuat untuk mengembangkan pendidikan. Pada titik inilah diperlukan berbagai komitmen untuk perbaikan kualitas. Manakala tahu melihat peluang, dan peluang itu dijadikan modal, kemudian modal menjadi pijakan untuk mengembangkan pendidikan yang disertai komitmen yang tinggi, maka secara otomatis akan terjadi sebuah efek domino (positif) dalam pengelolaan organisasi, strategi, SDM, pendidikan dan pengajaran, biaya, marketing pendidikan seperti yang sudah penulis uraikan di atas.

Manajemen dan kepemimpinan merupakan dua unsur yang sangat menentukan dalam keberlangsungan dan perkembangan organisasi termasuk organisasi pendidikan. Dalam era yang penuh dinamika serta perubahan yang cepat seperti sekarang ini, manajemen dan kepemimpinan yang peka terhadap perubahan amat diperlukan dalam memberdayakan semua potensi yang dimiliki. Manajemen dan kepemimpinan yang demikian diperlukan dalam mendorong organisasi untuk terus belajar dan tanggap terhadap perubahan dan perkembangan yang terjadi serta semakin berusaha dalam meningkatkan performa organisasinya.

Kepemiminan merupakan proses dimana seorang individu mempengaruhi sekelompok individu untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang kepala sekolah harus dapat mempengaruhi seluruh warga sekolah yang dipimpinnya melalui cara-cara yang positif untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Secara sederhana kepemimpinan transformasional dapat diartikan sebagai proses untuk merubah dan mentransformasikan individu agar mau berubah dan meningkatkan dirinya, yang didalamnya melibatkan motif dan pemenuhan kebutuhan serta penghargaan terhadap para bawahan.

Dalam bidang pendidikan dan persekolahan, kepemimpinan perlu diformulasikan kembali agar manajemen sekolah mampu beradaptasi dengan perkembangan yang ada. Karena dengan kepemimpinan yang sesuai dengan kebutuhan zaman, yang mampu berinovasi dan adaptif, maka harapannya penyelenggaraan pendidikan melalui manajemen yang baik dapat tercapai. Dengan manajemen yang memiliki tingkat adaptabilitas tingga, sehingga lingkungan sekolah benar-benar terkondisikan sebagai lingkungan pencetak generasi unggul. Dengan begitu, keterampilan dan kompetensi yang dikuasai siswa diharapkan dapat menjadi bekal hidup mereka di masa mendatang yang sarat dengan berbagai tuntutan serta perkembangannya.

Hal ini menunjukkan kepemimpinan transformasional sebagai salah satu alternatif bentuk kepemimpinan untuk meningkatkan adaptabilitas manajemen sekolah dalam menghadapi tantangan dan perubahan.

Gagasan dimana memandang bahwa organisasi sebagai budaya merupakan fenomena yang relatif baru. Pada awalnya, organisasi-organisasi, sebagian besarnya, semata-mata dibayangkan sebagai alat yang rasional untuk mengkoordinasi dan mengendalikan sekelompok orang. Di dalamnya ada tingkat-tingkat vertikal, departemen, hubungan wewenang dan seterusnya. Namun organisasi sebenarnya lebih dari itu. Organisasi juga mempunyai kepribadian, persis seperti individu; bisa tegar atau fleksibel, tidak ramah atau mendukung, inovatif atau konservatif.

Bila suatu organisasi menjadi terlembaga, organisasi ini memiliki kehidupannya sendiri, terlepas dari para pendirinya atau siapapun anggotanya. Di samping itu, organisasi itu dihargai untuk dirinya, tidak sekedar untuk barang atau jasa yang dihasilkan. Organisasi itu memperoleh keabadian (mortalitas).

Sehingga dari sini, budaya mempunyai peran penting dalam pembentukan karakteristik para anggota organisasi, dalam konteks ini adalah sekolahan, dalam melaksanakan aktifitasnya sebagai anggota suatu komunitas. Budaya yang kuat akan mampu mengarahkan pola kerja, khususnya manajemen sekolah, dalam menjalankan fungsi-fungsinya. Budaya yang menanamkan jiwa-jiwa disiplin, inovatif, kreatif dan menjunjung nilai prestasi akan dapat membawa manajemen organisasi sekolah yang lebih adaptif sehingga mampu menyesuaikan dengan perubahan zaman, siap menghadapi perubahan-perubahan serta lebih siap menghadapi tantangan-tantangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: